Seperti biasa,
gadis itu selalu duduk ditempat
pertama kali aku melihatnya, tenggelam dalam buku yang dibacanya, tanpa pernah
memperhatikan sekeliling, termasuk aku. Aku yang merasa agak heran padanya, ia
slalu membaca buku ilmu pengetahuan, disampingnyapun selalu ada begitu banyak
buku ilmu pengetahuan berbaris keatas seakan menunggu halamannya dibuka satu
persatu, tak pernah sekalipun aku melihatnya membaca novel maupun
tabloid-tabloid seperti layaknya gadis remaja seusianya, yang seperti tidak ingin melewatkan gosip terhangat
dari artis papan atas. Aku tersadar dari lamunanku tentang gadis yang tak kukenal
itu, kulirik jam yang melingkar ditangan kiriku, lalu kembali memperhatikan gadis itu, yang kini tengah
menyimpan beberapa
buku yang mungkin tak minat ia baca.
***
Hari ini aku benar benar disibukkan oleh tugas skripsiku
yang tak kunjung selesai, sampai-sampai buku milik perpustakaan yang kupinjam
semunggu yang lalu belum sempat ku kembalikan, padahal tanggalnya habis hari ini, tapi sepertinya
aku tak bisa, tak apalah kalau harus didenda seribu rupiah perbuku, toh
dendanya juga gak bakalan bikin aku bangkrut.
Hari berikutnya, aku memasuki pintu perpustakaan yang
terbuka lebar untuk siapapun yang berminat membaca buku didalamnya. Akupun melihat-lihat
sekelilingku, terutama bangku yang biasa diduduki gadis itu.
“Aku tak melihatnya,kemana dia ?. Fikirku.
“Apa
juga urusanku ? toh aku tak kenal padanya ?”.
Jujur, aku
benar-benar gelisah melihat bangku itu kosong.
“Apa
aku merindukannya ? Adakah sesuatu yang terjadi padanya ? Hari ini hari rabu,
mungkin ia tak mengunjungi perpustakaan hari rabu,”.Aku mencoba menjawab
pertanyaan-pertanyaan
yang terbersit di pikiranku, dan mulai
berjalan menyusuri rak-rak tinggi yang berjejer di setiap sisi ruangan.Aku ingin mencari buku
yang memuat bahan skripsiku untuk besok lusa. Leukemia itulah buku yang sedari
tadi kucari, mataku terbelalak saat menemukan buku bersampul putih tersebut.
Satu persatu halaman kubuka, mataku menatap aneh saat menemukan kertas putih
terlipat tepat di halaman yang menjelaskan tentang penyebab penyakit mematikan
tersebut, karena rasa penasaranku yang
terlanjur membuncah, akupun membuka kertas itu perlahan,
mataku kembali terbelalak saat menemukan namaku tertulis disana.
Dear Restu Santosa,
Kenalkan, aku gadis yang selalu kau
perhatikan, gadis yang selalu duduk di bangku samping rak ilmu pengetahuan.
Maafkan aku Restu, begitu lancangnya aku mengirim surat padamu yang sama sekali
belum kukenal.
Aku
seorang mahasiswi ilmu kedokteran yang mempunyai cita-cita menyelamatkan para pengidap
leukimia,penyakit mematikan yang menjadi bahan skripsimu, jarang
sekali penderita penyakit ini bisa sembuh total, dan tak jarang penderitanya sampai
meninggal dunia. Kuharap kau akan menjadi dokter hebat, yang mempunyai
cita-cita mulia.Jika kau berkenan, tolong temui aku di rumah sederhana bercat putih no 32 A perumahan Graha
Alam Asri.
Sebelumnya terima kasih, kamu sudah
meluangkan waktu untuk membaca surat tak sopan ini, abaikan saja jika menurutmu ini tak penting. Sekian dariku.
Aku
menutup kertas putih tersebut dengan berjuta pertanyaan yang tak bisa kujawab.
“Kenapa
dia tahu namaku, kenapa dia tahu aku calon dokter sampai-sampai
dia tahu aku membutuhkan buku
leukimia untuk skripsiku ? kenapa ia
menceritakan cita-citanya padaku, kenapa ia memintaku menemuinya ? kenapa pula dalam surat itu tak
tertulis namanya ? Bagaimana aku bisa menemuinya
?jika namanya saja aku tak tahu” Fikirku dengan dahi berkerut dan tangan menggaruk
kepala yang sama sekali tak gatal. Aku baru sadar, ada
bekas susutan darah di kertas itu, satu yang kutahu, -dia mimisan- .
***
Aku terkejut saat mendapati bendera kuning tanda berduka cita terpasang di dinding pagar besi rumah sederhana bercat putih yang ditunjukan gadis itu disuratnya yang saat ini sedang kupegang, alamatnya benar, apakah ini rumahnya ? Apakah ini rumah gadis itu ? Sepertinya aku belum pernah kesini, aku memang seorang mahasiswa yang sudah lama tinggal di Jakarta, tapi jujur, aku tidak tahu daerah ini. Aku menekan-nekan bel yang menempel di dinding pagar besi, tepat di bawah bendera kuning dipasang. Tak lama, seorang wanita paruh baya membukakan pintu pagar dengan raut muka sedih.
Aku terkejut saat mendapati bendera kuning tanda berduka cita terpasang di dinding pagar besi rumah sederhana bercat putih yang ditunjukan gadis itu disuratnya yang saat ini sedang kupegang, alamatnya benar, apakah ini rumahnya ? Apakah ini rumah gadis itu ? Sepertinya aku belum pernah kesini, aku memang seorang mahasiswa yang sudah lama tinggal di Jakarta, tapi jujur, aku tidak tahu daerah ini. Aku menekan-nekan bel yang menempel di dinding pagar besi, tepat di bawah bendera kuning dipasang. Tak lama, seorang wanita paruh baya membukakan pintu pagar dengan raut muka sedih.
“ Maaf cari siapa ya ?” Tanya
perempuan tersebut. Tanpa menjawab pertanyaannya, aku memberikan kertas putih
yang sudah lama memenuhi pikiranku. Wanita paruh baya itu mengambilnya.
“ Kamu Restu Santosa ?” Tanyanya
lagi, akupun mengangguk.
“ Mari masuk !” Ujar ibu paruh baya
itu mendahului.
Betapa terkejutnya aku saat melihat
beberapa rangkaian bunga ucapan bela sungkawa yang tersusun berderet memenuhi
sebagian halaman depan teras rumah.
“ Athya kusuma putri ? sepertinya aku pernah mendengar nama itu.” Aku
mengikuti ibu paruh baya itu memasuki pintu rumah.
“ Siapa yang datang mah ?” tanya seorang laki-laki paruh baya yang sedang
duduk di sofa dengan baju hitam-hitam,tanpa kusadari, baju yang dikenakan ibu
paruh baya tadi juga hitam. Aku tahu, disini memang dalam suasana duka atas
meninggalnya seseorang, tapi apakah pemakamannya baru selesai dilaksanakan.
“ Ini Restu Santosa pah !” Ucap si ibu paruh baya.
“ Oh Nak Restu ! silahkan duduk Nak !” Laki-laki itu membungkukan badan
seraya mempersilakan aku duduk.
“ Mengapa aku begitu dihormati ? memangnya aku siapa ?” gumamku dalam hati
penuh keheranan. Akupun duduk di sofa dengan fikiran melayang-layang tak
mengerti.
“ Begini Nak Restu, surat yang Nak
Restu terima ini dari anak kami, anak kami satu-satunya, namanya Athya.” Jelas sang ibu paruh
baya menitikkan air mata.
“ Ja.. jadi rangkaian bunga di depan
?” Ucapku terbata-bata, aku tak tahu, mengapa saat aku mendengar ucapan ibu
paruh baya tersebut, mendadak rasa rindu akan gadis yang baru kutahu namanya
barusan, muncul tanpa sebab.
“ Iya Nak Restu, Athya mengidap
penyakit leukimia stadium akhir, ia menghembuskan nafas terakhitnya tadi
selepas subuh di rumah sakit..” Betapa terkejutnya aku saat mendengar apa yang
diucapkan ayah satu anak tersebut, baru saja aku mendapat berita dari dr.
Andre, dosenku, bahwa pasiennya yang mengidap penyakit leukimia meninggal dunia
selepas subuh. Tak terasa mataku mulai berair, tak kuasa mendengarnya.
“ Ya Tuhan, kenapa aku baru
menyadari banyak keanehan pada gadis itu, kenapa aku baru tahu namanya setelah
ia tak ada, kenapa pula, aku baru menyadari aku merindukannya, a a aku
mencintainya..” Jeritku pelan. Perlahan tangan kokoh dan tangan lembut
merengkuhku penuh kasih sayang.
“ Bukan kamu saja yang merasa
kehilangan, dia anak kami satu-satunya, harapan kecil kami !! dia anugrah
terindah kami , Allah Maha Adil lagi Maha Mengetahui, mungkin Athya termasuk
orang baik, sehingga Allah cepat memanggilnya .“ Aku tak bisa berkata apa-apa,
terlalu berat untukku. Kenapa gadis yang baru kusadari kumencintainya, harus
pergi begitu cepat, kenapa di harus pergi disaat aku sedang sibuk skripsi, aku
benar-benar merasa sedih, dia tak dapat merayakan keberhasilanku esok nanti.
“ Kami mohon padamu Nak ! wujudkan
impian Athya, hanya kamu yang bisa
mewujudkannya. Athya benar-benar menaruh seluruh harapannya padamu, semasa
hidupnya, ia tak pernah bisa mencintai seorang lelakipun kecuali kamu, kamu
bisa ?“ aku mengangguk pelan, padahal, aku sendiri tak tahu harus berbuat apa, tapi
demi gadis yang tak sempat ku miliki, aku yakin, aku pasti bisa.
***
Kini di hadapanku terlihat gundukan
tanah yang mulai mengering serta taburan bunga yang mulai menghilang bercampur
tanah . Kurengkuh nisan bertuliskan Athya Kusuma P, berharap gadis itu dapat
melihatnya, karena kini aku telah berhasil mewujudkan impiannya yang juga
menjadi impianku, menjadi seorang dokter yang bercita-cita menyembuhkan para
pengidap leukimia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar