Jumat, 14 Agustus 2015

Gadis sejuta harapan
            Seperti biasa,  gadis itu selalu duduk ditempat pertama kali aku melihatnya, tenggelam dalam buku yang dibacanya, tanpa pernah memperhatikan sekeliling, termasuk aku. Aku yang merasa agak heran padanya, ia slalu membaca buku ilmu pengetahuan, disampingnyapun selalu ada begitu banyak buku ilmu pengetahuan berbaris keatas seakan menunggu halamannya dibuka satu persatu, tak pernah sekalipun aku melihatnya membaca novel maupun tabloid-tabloid  seperti layaknya gadis remaja seusianya, yang seperti tidak ingin melewatkan gosip terhangat dari artis papan atas. Aku tersadar dari lamunanku tentang gadis yang tak kukenal itu, kulirik jam yang melingkar ditangan kiriku, lalu kembali memperhatikan gadis itu, yang kini tengah menyimpan beberapa buku yang mungkin tak minat ia baca.
                                                                        ***
            Hari ini aku benar benar disibukkan oleh tugas skripsiku yang tak kunjung selesai, sampai-sampai buku milik perpustakaan yang kupinjam semunggu yang lalu belum sempat ku kembalikan, padahal tanggalnya habis hari ini, tapi sepertinya aku tak bisa, tak apalah kalau harus didenda seribu rupiah perbuku, toh dendanya juga gak bakalan bikin aku bangkrut.
            Hari berikutnya, aku memasuki pintu perpustakaan yang terbuka lebar untuk siapapun yang berminat membaca buku didalamnya. Akupun melihat-lihat sekelilingku, terutama bangku yang biasa diduduki gadis itu.
“Aku tak melihatnya,kemana dia ?. Fikirku.
“Apa juga urusanku ? toh aku tak kenal padanya ?”. Jujur, aku
 benar-benar gelisah melihat bangku itu kosong.
“Apa aku merindukannya ? Adakah sesuatu yang terjadi padanya ? Hari ini hari rabu, mungkin ia tak mengunjungi perpustakaan hari rabu,”.Aku mencoba menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang terbersit di pikiranku, dan mulai berjalan menyusuri rak-rak tinggi yang berjejer di setiap sisi ruangan.Aku ingin mencari buku yang memuat bahan skripsiku untuk besok lusa. Leukemia itulah buku yang sedari tadi kucari, mataku terbelalak saat menemukan buku bersampul putih tersebut. Satu persatu halaman kubuka, mataku menatap aneh saat menemukan kertas putih terlipat tepat di halaman yang menjelaskan tentang penyebab penyakit mematikan tersebut, karena rasa penasaranku yang terlanjur membuncah, akupun membuka kertas itu perlahan, mataku kembali terbelalak saat menemukan namaku tertulis disana.
                        Dear Restu Santosa,
Kenalkan, aku gadis yang selalu kau perhatikan, gadis yang selalu duduk di bangku samping rak ilmu pengetahuan. Maafkan aku Restu, begitu lancangnya aku mengirim surat padamu yang sama sekali belum kukenal.
Aku seorang mahasiswi ilmu kedokteran yang mempunyai cita-cita menyelamatkan para pengidap leukimia,penyakit mematikan yang menjadi bahan skripsimu, jarang sekali penderita penyakit ini bisa sembuh total, dan tak jarang penderitanya sampai meninggal dunia. Kuharap kau akan menjadi dokter hebat, yang mempunyai cita-cita mulia.Jika kau berkenan, tolong temui aku di rumah sederhana bercat putih no 32 A perumahan Graha Alam Asri.         
Sebelumnya terima kasih, kamu sudah meluangkan waktu untuk membaca surat tak sopan ini, abaikan saja jika menurutmu ini tak penting. Sekian dariku.
Aku menutup kertas putih tersebut dengan berjuta pertanyaan yang tak bisa kujawab.
“Kenapa dia tahu namaku, kenapa dia tahu aku calon dokter sampai-sampai dia tahu aku membutuhkan buku leukimia untuk skripsiku ? kenapa ia menceritakan cita-citanya padaku, kenapa ia memintaku menemuinya ? kenapa pula dalam surat itu tak tertulis namanya ? Bagaimana aku bisa menemuinya ?jika namanya saja aku tak tahu” Fikirku dengan dahi berkerut dan tangan menggaruk kepala yang sama sekali tak gatal. Aku baru sadar, ada bekas susutan darah di kertas itu, satu yang kutahu, -dia mimisan- .
                                                            ***
            Aku terkejut saat mendapati bendera kuning tanda berduka cita terpasang di dinding pagar besi rumah sederhana bercat putih yang ditunjukan gadis itu disuratnya yang saat ini sedang kupegang, alamatnya benar, apakah ini rumahnya ? Apakah ini rumah gadis itu ? Sepertinya aku belum pernah kesini, aku memang seorang mahasiswa yang sudah lama tinggal di Jakarta, tapi jujur, aku tidak tahu daerah ini. Aku menekan-nekan bel yang menempel di dinding pagar besi, tepat di bawah bendera kuning dipasang. Tak lama, seorang wanita paruh baya membukakan pintu pagar dengan raut muka sedih.
            “ Maaf cari siapa ya ?” Tanya perempuan tersebut. Tanpa menjawab pertanyaannya, aku memberikan kertas putih yang sudah lama memenuhi pikiranku. Wanita paruh baya itu mengambilnya.
            “ Kamu Restu Santosa ?” Tanyanya lagi, akupun mengangguk.
            “ Mari masuk !” Ujar ibu paruh baya itu mendahului.
            Betapa terkejutnya aku saat melihat beberapa rangkaian bunga ucapan bela sungkawa yang tersusun berderet memenuhi sebagian halaman depan teras rumah.
“ Athya kusuma putri ? sepertinya aku pernah mendengar nama itu.” Aku mengikuti ibu paruh baya itu memasuki pintu rumah.
“ Siapa yang datang mah ?” tanya seorang laki-laki paruh baya yang sedang duduk di sofa dengan baju hitam-hitam,tanpa kusadari, baju yang dikenakan ibu paruh baya tadi juga hitam. Aku tahu, disini memang dalam suasana duka atas meninggalnya seseorang, tapi apakah pemakamannya baru selesai dilaksanakan.
“ Ini Restu Santosa pah !” Ucap si ibu paruh baya.
“ Oh Nak Restu ! silahkan duduk Nak !” Laki-laki itu membungkukan badan seraya mempersilakan aku duduk.
“ Mengapa aku begitu dihormati ? memangnya aku siapa ?” gumamku dalam hati penuh keheranan. Akupun duduk di sofa dengan fikiran melayang-layang tak mengerti.
            “ Begini Nak Restu, surat yang Nak Restu terima ini dari anak kami, anak kami satu-satunya, namanya Athya.”  Jelas sang ibu paruh baya menitikkan air mata.
            “ Ja.. jadi rangkaian bunga di depan ?” Ucapku terbata-bata, aku tak tahu, mengapa saat aku mendengar ucapan ibu paruh baya tersebut, mendadak rasa rindu akan gadis yang baru kutahu namanya barusan, muncul tanpa sebab.
            “ Iya Nak Restu, Athya mengidap penyakit leukimia stadium akhir, ia menghembuskan nafas terakhitnya tadi selepas subuh di rumah sakit..” Betapa terkejutnya aku saat mendengar apa yang diucapkan ayah satu anak tersebut, baru saja aku mendapat berita dari dr. Andre, dosenku, bahwa pasiennya yang mengidap penyakit leukimia meninggal dunia selepas subuh. Tak terasa mataku mulai berair, tak kuasa mendengarnya.
            “ Ya Tuhan, kenapa aku baru menyadari banyak keanehan pada gadis itu, kenapa aku baru tahu namanya setelah ia tak ada, kenapa pula, aku baru menyadari aku merindukannya, a a aku mencintainya..” Jeritku pelan. Perlahan tangan kokoh dan tangan lembut merengkuhku penuh kasih sayang.
            “ Bukan kamu saja yang merasa kehilangan, dia anak kami satu-satunya, harapan kecil kami !! dia anugrah terindah kami , Allah Maha Adil lagi Maha Mengetahui, mungkin Athya termasuk orang baik, sehingga Allah cepat memanggilnya .“ Aku tak bisa berkata apa-apa, terlalu berat untukku. Kenapa gadis yang baru kusadari kumencintainya, harus pergi begitu cepat, kenapa di harus pergi disaat aku sedang sibuk skripsi, aku benar-benar merasa sedih, dia tak dapat merayakan keberhasilanku esok nanti.
            “ Kami mohon padamu Nak ! wujudkan impian Athya, hanya kamu  yang bisa mewujudkannya. Athya benar-benar menaruh seluruh harapannya padamu, semasa hidupnya, ia tak pernah bisa mencintai seorang lelakipun kecuali kamu, kamu bisa ?“ aku mengangguk pelan, padahal, aku sendiri tak tahu harus berbuat apa, tapi demi gadis yang tak sempat ku miliki, aku yakin, aku pasti bisa.
                                                                        ***

            Kini di hadapanku terlihat gundukan tanah yang mulai mengering serta taburan bunga yang mulai menghilang bercampur tanah . Kurengkuh nisan bertuliskan Athya Kusuma P, berharap gadis itu dapat melihatnya, karena kini aku telah berhasil mewujudkan impiannya yang juga menjadi impianku, menjadi seorang dokter yang bercita-cita menyembuhkan para pengidap leukimia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar