Jumat, 14 Agustus 2015

Kebetulan yang tiba-tiba
                                    Widya Islamiati @widya_islami
Suara klakson dan panasnya udara Jakarta menemani pagiku di tengah kemacetan Jalan Raya Condet. Seperti biasa, setiap pagi aku selalu berangkat ke sekolah dengan menaiki metro mini yang bau dan panasnya cukup menguras kesabaran, ditambah lagi pengemudi yang ugal-ugalan dan tempat duduk yang sedikit, tak jarang membuatku harus berdiri dan kadang hampir terjatuh, walau itu sudah menjadi rahasia umum dan kelaziman bagi warga Jakarta. Aku memberhentikan metro mini yang kutumpangi tepat didepan jalan kecil yang menghubungkan jalan Condet dengan jalan Manunggal, jalan tempat sekolahku berada.
“Aila!” Sapaku pada sahabatku yang sedari tadi menunggu kedatanganku. Hari ini, rencananya kelasku akan mengadakan karya wisata ke Kebun Raya Bogor.
“Sini Shyl!“Lambai Aila seraya mengajakku bergabung dengan teman-teman yang sebentar lagi akan berangkat ke stasiun, berhubung perjalanan ke Bogor lebih efisien menggunakan kereta api. Perjalananpun tak terasa akan berakhir, aku bersiap turun dari kereta dan mulai menuju Kebun Raya.
Setelah lama berjalan mengelilingi Kebun Raya, kak Sulhi, guru pembina yang menemani perjalanan, mengusulkan untuk berkunjung ke rumah Nana, salah satu temanku yang rumahnya yang tidak jauh dari sana.
Kumandang adzan ashar sontak membuatku menghentikan aktifitasku dan  segera mengambil wudlu, berhubung wc yang berada di rumah Nana terbatas, beberapa teman harus sabar menunggu giliran. Aku berjalan memasuki kamar depan rumah Nana yang telah dipersilahkan pemiliknya untuk dipergunakan.
“Hei! jangan masuk kamar sembarangan, itu kamar kakaknya Nana.“Ucap seseorang mengingatkanku.
“Aku udah izin kok!”Jawabku seraya menutup pintu dan bersiap shalat. Tak lama, aku mendengar suara ketukan pintu.
“ Neng! Neng! jangan lama-lama yah!”Ucap seorang laki-laki, laki-laki yang tadi mengingatkanku agar tidak masuk kamar sembarangan, namanya Revi, teman sekelasku yang usianya hampir terpaut dua tahun lebih tua dariku. Aku hanya tersenyum mendengarnya, lantas aku melaksanakan shalatku.
“Abah maaf ya! Anaa shalatnya lama..“Ucapku setelah aku selesai shalat dan melihat ia sedang tahiyyat akhir di kamar sebelah.
                                                ***
Hari-hariku selalu terasa istimewa sejak kehadiran Revi di hatiku, hampir tak pernah rasanya aku mengenal kata kecewa, walau sebenarnya Revi tidak mengetahui perihal rasa yang kian hari kian tumbuh di hatiku. Aku tak pernah bisa membayangkan jika Revi mengetahuinya, dan malah enggan membalas harapanku. Belum siap rasanya jika aku harus menelan pil pahit di tengah kebahagiaan yang baru saja kurasakan ini, biarlah aku menyimpan rasaku ini, tanpa ada orang lain yang tahu. Namun memang sulit bagiku untuk menyembunyikan rahasia ini dari Aila, jelas saja, dia sahabatku yang hampir tak pernah berpisah denganku, dimana ada Aila, disitu ada aku. Mana mungkin aku bisa menyembunyikan sesuatu darinya.
“Iya Shyl, aku udah nyangka kok! Dia emang keren, badannya tegak, tinggi, dadanya bidang, cocok tuh buat jadi sandaran kamu!”Ledeknya sambil cengengesan.
“Hush Aila, bukan muhrim tau!” umpatku.
“Yah paling beberapa tahun lagi jadi muhrim, eh Shyl aku juga ngefans tau sama dia, tapi kaga suka, cuman ngefans, abis dia mirip banget sama abang aku, iya deh beneran!”
“Yadah Ai, terserah kamu! mau ngefans, mau suka juga ga papa, aku oke!”
            “Kaga mungkin atuh Neng Shyla, aku kan udah punya Vito, calon suamiku yang sangat mencintai aku!”Seru Aila dengan gaya lebay andalannya                                                               ***
            Jarum panjang jam mengarah ke angka 6 sementara jarum pendeknya mengarah ke antara angka 5 dan 6. Pukul 06.27, aku sudah berada di sekolah dan siap untuk menerima pelajaran. Hari ini hari kamis, ada 5 pelajaran di kelasku, salah satunya pelajaran Bahasa Indonesia dan tugasnya yang mengharuskan semua murid mendeskripsikan barang, seperti layaknya bintang iklan sedang mendeskripsikan barang yang ia promosikan. Aku memilih untuk mendeskripsikan tempat makanku, sedang Aila memilih mendeskripsikan handphonenya.
            Satu persatu siswa maju kedepan untuk mendeskripsikan barang yang mereka bawa, aku melihat Revi sedang bersiap untuk maju kedepan, aku tak tahu dia akan mendeskripsikan apa, ia melirikku dengan senyuman andalannya sebelum maju kedepan dan memulai pembicaraannya dengan tatapan yang tak berhenti menatapku, sontak membuat anak-anak ramai menyoraki kami sebagai pasangan. Aku benar-benar malu, tidak tahu harus berbicara apa, aku hanya menunduk dengan wajah kemerahan.
            Aku berharap besok dan seterusnya akan seperti ini, seindah tadi, walaupun aku tak tahu apakah dia sadar akan rasa yang aku punya, atau sebaliknya. Aku juga tak tahu apakah hatinya merasakan yang sama atau tidak. Tapi, seperti yang Aila bilang, atensi-atensi itu bisa jadi merupakan sinyal perihal perasaannya padaku. Namun kenyataannya sebaliknya, perhatian yang ia curahkan hanya untuk satu hari saja, setelah itu, ia lebih terkesan tak mempedulikan aku, walaupun berita kedekatan kami sudah tersiar dan merebak kemana-mana.    
                                                            ***
Siang ini, sepulang sekolah, aku berencana main  ke asrama, berhubung sekolahku yang menyediakan penginapan untuk murid yang berasal dari luar daerah, semacam boarding school.  Disana, aku melihat Ran, salah satu temanku tengah berkutat dengan selembar kertas sambil tiduran.
“Lagi apa sih Ran?”Tanyaku menggetkannya dan langsung menyembunyikan kertas yang ia pegang.
“Ga lagi apa-apa Shyl!”Umpatnya.
“Aduh Ran! please deh! kita itu temen. Masa begitu aja malu sih! surat buat Adi yah?“Aku menggelitik penasaran.
“Hmm iya Shyl, aku malu tau!”
“Gak papa! rasa cinta itu kan wajar.”
“Seperti rasa cinta kamu ke Revi yah?”Ledek Ran.
“Apasih Ran? aku mah netral!”
“Semuanya juga udah tau Shyl, ga usah disembunyiin. Kita kan temen, masa gitu aja malu sih!”Ran membalikkan perkataanku yang  lantas membuatku gugup, aku tak bisa berbohong. Tapi sejujurnya aku membutuhkan informasi tentang Revi,yang aku yakin Ran pasti banyak mengetahuinya, karena mereka lulusan SMP yang sama.
“Aku ga bisa boong Ran! emang aku naro harepan sama dia, tapi sebenernya aku malu sama diriku sendiri, cobadeh pikirin Ran. Dia tuh handsome, tinggi, pinter, sementara aku? aku ga cantik, ga pinter, aku ga pantes buat dia, aku malu Ran!”Akuku seraya menunduk malu.
“Ga gitu juga Shyl, kamu punya kelebihan, semua orang punya kelebihan . Dia emang tipe cowo yang cuek, kamu harus sabar!”Ucap Ran merangkulku.
“Menurut kamu, aku sama Revi itu cocok ga?”
“Hmm kalo dari segi fisik, yaa cocok-cocok aja. Tapi kalo dari segi sifat, kayanya kurang deh! dia terlalu pendiem, kamu terlalu aktif, dia ga suka maju kedepan, kamu paling sering maju ke depan! itu sih menurut aku, ga tau menurut orang..“Jelas Ran. Ran emang bener, banyak banget perbedaanku dengan dia, tapi aku tidak boleh putus asa, aku mengambil buku, lalu menulis beberapa kata guna menghibur hatiku.
Perbedaan
Perbedaan itu wajar
Perbedaan itu tantangan
Perbedaan itu indah
Perbedaan itu saling melengkapi
Perbedaan itu bukan untuk beracting agar selalu sama
Karena perbedaan itu harus dijalani agar berwarna
Aku beranjak dari tempat tidur Ran, berhubung Ran sudah terlelap ketika aku  sedang menulis, menghampiri Aurel yang terlihat tengah bersantai di bawah kipas angin yang menempel di langit-langit.
            “Hey Au! lagi apa nih?“Tanyaku basa-basi. Aurel tersenyum.
            “Shyl, Aurel ada cerita nih!”
            “Maksudnya?”
            “Iya Shyl, kemarenkan Au manggil Revi, Hey Shyla . Shyla, eh dia nengok, trus ngomong “ Apasih Aurel, jangan manggil aku gitu!” katanya . Trus Au nanya, “ Emang kenapa Rev?“ Dia malah diem, trus ngomong gini “Aku bingung Au, bingung mo ngasih apa ke dia? dia terlalu lebih bagi aku, dia pinter, dia aktif, dia muslimah yang baik, tapi aku bukan siapa-siapa.” Dia ngomong gitu..“Cerita Aurel panjang lebar.
            “Emang Shyla keliatan ngarepin apa dari dia? Shyla kan ga ngarepin apa-apa dari dia, Shyla ga minta apa-apa ke dia“Terangku yang jelas-jelas itu bohong, mengingat perasaanku yang sangat berharap dia bisa membalas cintaku.
            “Mungkin dia ngerasa, kalo Shyla ngarepin dia, emang bukan dari segi materi kan ? yaa Au tau kok!”
            “Bilangin yah ama dia, Shyla ga ngarepin dia, apalagi ngarepin materi dari dia“
            “Meskipun itu cinta?“ Tanya Aurel menyelidik. Terus terang, aku bingung harus jawab apa.
            “Hmm mungkin.”  Jawabku singkat.
            “Ga, Au yakin ko, kamu punya perasaan sama dia, mata kamu itu ga bisa boong Shyl“
            “Gatau Au, ini bener-bener hari dimana Shyla harus ngeluarin rahasia Shyla ke dua orang temen Shyla, Aurel sama Ran.”
            “Berarti emang iya yah?“
            “Emang Shyla ga bisa boongin orang yah?”
            “Hmm, apa yang harus Au sampein ke Revi?”
            “Shyla ga minta apa-apa dari dia, cinta yaa hanya itu, karena itu adalah induk semuanya“
            “Okeh siip“
                                                            ***
            Aku berjalan menyusuri lorong kelas di lantai dua sekolahku, semilir angin dan hangatnya sinar mentari menyapu lembut wajahku, hidup tanpa beban, sepertinya itu yang aku harapkan, hidup tanpa cinta, hidup tenang mengejar cita-cita itu adalah hal yang harus aku lakukan, membuang segenap perasaanku terhadap Revi. Apalagi setelah aku tahu. Dulu saat MOS, Revi menyimpan harapan pada sosok gadis yang memang mempesona dan sangat sempurna dengan segala keanggunannya, keanggunan yang seharusnya dimiliki setiap wanita muslimah termasuk aku, namun aku memang terlahir tak punyai sifat itu. Aku lelah, aku harus ikhlaskan dia, aku tak mau memupuskan harapannya untuk memiliki gadis itu dengan aku yang mengharapkannya, gadis itu adalah Aila, sahabatku sendiri. Tapi memang Aila tidak bersalah, sama sekali tidak bersalah, aku yang salah, telah mengharapkan seseorang yang belum tentu akan membalas harapanku. Akupun memutuskan mengirim sepucuk surat kepadanya.
                        Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh
                                    *hehe lengkap biar full 30 hha
            Hmm ini bukan surat pertama Shyla ke kamu, disini Shyla cuman mau bilang kalo Shyla sekarang udah sadar, Shyla mau brenti ngarepin kamu, Shyla mau fokus aja sama cita-cita Shyla, Shyla ga mau jadi penghalang buat kamu menggapai harepan kamu, dia gadis yang sukai waktu MOS, fighting Revi, aku yakin, jodoh itu yang bae buat yang bae, dan itu berlaku bagi kamu dan dia. Aku juga mau ngejar harepan aku yang sekarang udah bukan kamu lagi, harapanku sekarang adalah jadi motivator, daiyah, juga penulis. Do’ain yah ! segitu aja.
                        Wassalam
            Aku memberikan surat itu saat istirahat kedua shalat dzuhur, yang setelah itu kami berjamah shalat berdua tanpa rencana, dan menurutku itu adalah sebuah kebetulan yang tiba-tiba.  
            Rasanya lega sekali telah mengungkapkan segala harapanku padanya, seperti tanpa beban. Segera kuambil handphoneku dan kuabadikan rasaku dengan kata-kata sederhana.
                        Indah nian terasa hatiku
                        Mengungkap hati melepas gundah
                        Meski tak tertuang kasihmu
                        Rasa lega berhenti asa
                        Hati bak terbang ke udara
                        Melayang-layang menari-nari
            Aku tersenyum membacanya, walau tak terlalu bagus, tapi inilah isi hatiku, hati yang sedang menghapus jejak mantan penghuninya, hati yang sedang berjalan menuju jalan terang benderang yang tengah menanti hati itu datang dan tiba disana.
                                                            ***
            Tak terasa, liburan akhir semester genap sudah di depan mata, berbagai kegiatan OSIS mempersiapkan berbagai acara perpisahan mulai menyibukkanku, setelah Ulangan akhir semester sukses kujalani. Hingga hari H tiba, dan acara berjalan sukses, acara pelepasan kelas 12 yang OSIS usulkanpun berjalan sebaik rencana. Aku berdiri dilantai 3 sekolahku, memperhatikan jalannya acara dengan hati bahagia. Tiba-tiba ada yang merangkulku dari belakang yang sontak membuatku berbalik, ternyata itu Aurel.
            “Acara kita sukses Shyl, berkat kerja kerasmu, usulmu! kita sukses bener-bener sukses!” puji Aurel seraya ikut memperhatikan acara.
            “Apasih Au, ini hasil kerja kita semua, bukan hanya OSIS, bukan hanya aku, mana mungkin kan aku bekerja sendiri?” Umpatku.
            “Ah kamu! selalu saja begitu. Oh iya Shyl, kudengar, Revi akan pindah sekolah setelah adiknya, Tiara lulus SMP, tahun ini kan Tiara lulus, Revi pindah tahun ini dong?”Tanya Aurel penasaran.
            “Iya, aku dengar juga begitu. Hmm jangan bilang kamu mau nanya aku bakalan kehilangan dia atau ngga.”Selidikku. Aurel hanya tersenyum, tanda dugaanku benar.
            “Inget yah aku udah ngga ngarepin dia lagi, udah lama, aku udah move up!”
            “Iya deh kamu hebat, kamu bisa move up!”
            “Aku yakin kamu juga bisa kok“  Elusku pada Aurel, tanda aku ada di sampingnya untuk menyemangatinya. Sebenarnya aku agak kaget mendengar kabar tentang rencana pindahnya Revi setelah libur panjang, aku berfikir bahwa itu adalah berita basi yang sebenarnya tidak benar. Namun ternyata aku salah, itu memang benar, dan itu akan sangat membantu proses move upku yang sebenarnya belum sempurna.
                                                            ***
            Hari ini hari minggu, hari terakhir liburan semester genapku. Buku-buku sudah kusampul, pen, dan alat tulis lain sudah rapi mengisi tasku. Aku senang, akan kembali ke sekolah dengan kelas dan bangku baru, walau aku tahu, aku takkan bertemu Revi lagi di sekolah, tapi itu bukan masalah bagiku, bahkan foto berdua pertama kami yang diambil saat di kota tuapun, tersimpan rapi di laptop, dan hampir tak pernah lagi kubuka. Aku yakin, hariku kan lebih indah jika aku berfokus saja pada tujuanku, tanpa menghiraukan rasa cinta yang menurutku itu adalah penghalang kesuksesan seseorang.
                                                            ***
            Kusimpan rapat-rapat kenangan masa SMAku. Kini aku berada di depan kampus sastra Universitas Indonesia, siap untuk menuntut ilmu dan merangkai kata juga bertukar pikiran dengan teman-teman baruku. Aku yakin disini juga banyak rintangan seperti layaknya rintangan masa SMAku dulu, malah kurasa akan lebih banyak.
            Dan memang benar, keimananku diuji disini, banyak teman non muslim yang mengajakku bergabung dengan komunitas mereka yang diluar nalar jika aku mengikuti ajakkan mereka, tapi aku tak pernah menganggap itu sebagai rintangan, aku selalu menghadapinya dengan senyuman, hingga merekapun sadar, bahwa aku tetap pada prinsipku, dan takkan berubah.
Masa sulit Mahasiswapun akhirnya aku jalani, masa skripsi, banyak sekali senior dari organisasi luar kampusku yang banyak membantu. Hingga tak jarang aku harus mengerjakan ini hingga larut malam di luar rumah, untung banyak teman-temanku yang selalu setia membantu, walau sejak aku masuk kuliah aku sering kesepian karena kehilangan Aila. Aila yang memilih jurusan lain dengan jurusanku, ditambah lagi aku yang sibuk bekerja di salah satu majalah anak, dan ia yang bekerja di salah satu penerbit, membuat aku jarang sekali bertemu dengannya.
                                                ***
 Hari ini, hari Senin, hari sibuk bagiku. Aku berjalan menuju penitipan sandal yang tersedia di mesjid istiqlal, berhubung ada pekerjaan yang harus ku selesaikan didaerah sekitar istiqlal, akupun memutuskan untuk shalat ashar disana, sembari istirahat melepas rasa lelah dan menghirup angin segar.
“Shyla! Shyla!”Panggil seseorang mengagetkanku dan sontak membuatku berbalik.
“Revi! Yaa Allah, Rev aku ga nyangka bisa ketemu kamu lagi! Hhh kamu baik?”Seruku dengan perasaan tak karuan, antara senang dan kaget.
“Baik, alhamdulillah, kamu gimana? kuliahnya?”tanyanya dengan gaya khasnya yang selalu terlihat tenang dimanapun dan kapanpun.
“Siapa Shyl?”Tanya Vira, teman sepekerjaanku.
“Oh ini Revi, teman SMAku”
“Aku ga diakui nih cinta pertamamu?”Ledeknya.
“Oh sudahlah Rev, jangan diungkit lagi. Kamu disini ngapain?”Tanyaku yang tak henti-hentinya tersenyum.
“Aku lagi jaga disekitar Monas !”Jawabnya tenang.
Setelah berbincang cukup lama, akupun mengakhiri pembicaraanku, sebenarnya banyak sekali hal yang ingin kutanyakan padanya, tapi mengingat Vira yang sudah siap kembali ke kantor akupun mengurungkan niatku

                                                ***
Ketukan pintu depan menyadarkan lamunanku dan lantas membentuk lekukan diantara dua pipiku. Itu Revi, aku segera membukakan pintu, dan mama menemaniku duduk disofa. Sekitar dua puluh menit yang lalu Revi meminta izin ingin bertamu kerumahku, akupun mengizinkannya berhubung ada sesuatu yang ingin kusampaikan. Tanpa berlama-lama, iapun memulai pembicaraan, dan betapa terkejutnya aku saat mengetahui ia ingin melamarku, ini sungguh tak bisa kuterima. Karena sebenarnya beberapa hari setelah aku bertemu dengannya dimesjid istiqlal sekitar sebulan yang lalu, aku dilamar oleh seorang jurnalis salah satu stasiun televisi dekat kantor tempatku bekerja, ia juga yang memotivasiku untuk memutuskan harapanku pada Revi, saat aku mengetahui Revi menyukai Aila, ia juga yang banyak membantuku menyelesaikan skripsiku, hingga aku lulus dan menjadi sarjana dengan nilai yang nyaris sempurna, dan juga membantuku melamar pekerjaan, saat aku butuh uang untuk keperluan kuliah, ia pemimpin organisasi luar kampus yang kuikuti sejak SMA, dan yang dua hari lagi akan menjadi suamiku. Aku terpaksa memotong pembicaraan Revi, dan memberikan undangan pernikahanku. Aku tahu, itu sulit baginya. Sesulit dulu, aku mengikhlaskannya untuk mengejar Aila. Bahkan mungkin lebih sulit dari itu. Tak lama, ka Nabil, laki-laki super yang sangat kucintai datang dan menjelaskan semuanya kepada Revi, sejelas-jelasnya, juga memohon maaf kepadanya. Aku tak bisa lagi berkata-kata, ini memang sebuah kebetulan yang tiba-tiba, seperti layaknya shalat berjamaahku dengan Revi dulu. Semua telah terlambat, akhirnya iapun datang ke acara pernikahanku dengan gaya yang tetap tenang, seperti tidak ada yang terjadi padanya.

Widya Islamiati, sebuah nama yang sederhana yang setia menemani seorang gadis kecil yang bercita-cita menjadi penulis dan daiyah mengarungi luasnya samudera kehidupan. Gadis yang tinggal di Jalan Poncol kel Gedong Pasar Rebo Jakarta Timur ini, memiliki akun twitter @widya_islami dan facebook Widya Islamiati.



Gadis sejuta harapan
            Seperti biasa,  gadis itu selalu duduk ditempat pertama kali aku melihatnya, tenggelam dalam buku yang dibacanya, tanpa pernah memperhatikan sekeliling, termasuk aku. Aku yang merasa agak heran padanya, ia slalu membaca buku ilmu pengetahuan, disampingnyapun selalu ada begitu banyak buku ilmu pengetahuan berbaris keatas seakan menunggu halamannya dibuka satu persatu, tak pernah sekalipun aku melihatnya membaca novel maupun tabloid-tabloid  seperti layaknya gadis remaja seusianya, yang seperti tidak ingin melewatkan gosip terhangat dari artis papan atas. Aku tersadar dari lamunanku tentang gadis yang tak kukenal itu, kulirik jam yang melingkar ditangan kiriku, lalu kembali memperhatikan gadis itu, yang kini tengah menyimpan beberapa buku yang mungkin tak minat ia baca.
                                                                        ***
            Hari ini aku benar benar disibukkan oleh tugas skripsiku yang tak kunjung selesai, sampai-sampai buku milik perpustakaan yang kupinjam semunggu yang lalu belum sempat ku kembalikan, padahal tanggalnya habis hari ini, tapi sepertinya aku tak bisa, tak apalah kalau harus didenda seribu rupiah perbuku, toh dendanya juga gak bakalan bikin aku bangkrut.
            Hari berikutnya, aku memasuki pintu perpustakaan yang terbuka lebar untuk siapapun yang berminat membaca buku didalamnya. Akupun melihat-lihat sekelilingku, terutama bangku yang biasa diduduki gadis itu.
“Aku tak melihatnya,kemana dia ?. Fikirku.
“Apa juga urusanku ? toh aku tak kenal padanya ?”. Jujur, aku
 benar-benar gelisah melihat bangku itu kosong.
“Apa aku merindukannya ? Adakah sesuatu yang terjadi padanya ? Hari ini hari rabu, mungkin ia tak mengunjungi perpustakaan hari rabu,”.Aku mencoba menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang terbersit di pikiranku, dan mulai berjalan menyusuri rak-rak tinggi yang berjejer di setiap sisi ruangan.Aku ingin mencari buku yang memuat bahan skripsiku untuk besok lusa. Leukemia itulah buku yang sedari tadi kucari, mataku terbelalak saat menemukan buku bersampul putih tersebut. Satu persatu halaman kubuka, mataku menatap aneh saat menemukan kertas putih terlipat tepat di halaman yang menjelaskan tentang penyebab penyakit mematikan tersebut, karena rasa penasaranku yang terlanjur membuncah, akupun membuka kertas itu perlahan, mataku kembali terbelalak saat menemukan namaku tertulis disana.
                        Dear Restu Santosa,
Kenalkan, aku gadis yang selalu kau perhatikan, gadis yang selalu duduk di bangku samping rak ilmu pengetahuan. Maafkan aku Restu, begitu lancangnya aku mengirim surat padamu yang sama sekali belum kukenal.
Aku seorang mahasiswi ilmu kedokteran yang mempunyai cita-cita menyelamatkan para pengidap leukimia,penyakit mematikan yang menjadi bahan skripsimu, jarang sekali penderita penyakit ini bisa sembuh total, dan tak jarang penderitanya sampai meninggal dunia. Kuharap kau akan menjadi dokter hebat, yang mempunyai cita-cita mulia.Jika kau berkenan, tolong temui aku di rumah sederhana bercat putih no 32 A perumahan Graha Alam Asri.         
Sebelumnya terima kasih, kamu sudah meluangkan waktu untuk membaca surat tak sopan ini, abaikan saja jika menurutmu ini tak penting. Sekian dariku.
Aku menutup kertas putih tersebut dengan berjuta pertanyaan yang tak bisa kujawab.
“Kenapa dia tahu namaku, kenapa dia tahu aku calon dokter sampai-sampai dia tahu aku membutuhkan buku leukimia untuk skripsiku ? kenapa ia menceritakan cita-citanya padaku, kenapa ia memintaku menemuinya ? kenapa pula dalam surat itu tak tertulis namanya ? Bagaimana aku bisa menemuinya ?jika namanya saja aku tak tahu” Fikirku dengan dahi berkerut dan tangan menggaruk kepala yang sama sekali tak gatal. Aku baru sadar, ada bekas susutan darah di kertas itu, satu yang kutahu, -dia mimisan- .
                                                            ***
            Aku terkejut saat mendapati bendera kuning tanda berduka cita terpasang di dinding pagar besi rumah sederhana bercat putih yang ditunjukan gadis itu disuratnya yang saat ini sedang kupegang, alamatnya benar, apakah ini rumahnya ? Apakah ini rumah gadis itu ? Sepertinya aku belum pernah kesini, aku memang seorang mahasiswa yang sudah lama tinggal di Jakarta, tapi jujur, aku tidak tahu daerah ini. Aku menekan-nekan bel yang menempel di dinding pagar besi, tepat di bawah bendera kuning dipasang. Tak lama, seorang wanita paruh baya membukakan pintu pagar dengan raut muka sedih.
            “ Maaf cari siapa ya ?” Tanya perempuan tersebut. Tanpa menjawab pertanyaannya, aku memberikan kertas putih yang sudah lama memenuhi pikiranku. Wanita paruh baya itu mengambilnya.
            “ Kamu Restu Santosa ?” Tanyanya lagi, akupun mengangguk.
            “ Mari masuk !” Ujar ibu paruh baya itu mendahului.
            Betapa terkejutnya aku saat melihat beberapa rangkaian bunga ucapan bela sungkawa yang tersusun berderet memenuhi sebagian halaman depan teras rumah.
“ Athya kusuma putri ? sepertinya aku pernah mendengar nama itu.” Aku mengikuti ibu paruh baya itu memasuki pintu rumah.
“ Siapa yang datang mah ?” tanya seorang laki-laki paruh baya yang sedang duduk di sofa dengan baju hitam-hitam,tanpa kusadari, baju yang dikenakan ibu paruh baya tadi juga hitam. Aku tahu, disini memang dalam suasana duka atas meninggalnya seseorang, tapi apakah pemakamannya baru selesai dilaksanakan.
“ Ini Restu Santosa pah !” Ucap si ibu paruh baya.
“ Oh Nak Restu ! silahkan duduk Nak !” Laki-laki itu membungkukan badan seraya mempersilakan aku duduk.
“ Mengapa aku begitu dihormati ? memangnya aku siapa ?” gumamku dalam hati penuh keheranan. Akupun duduk di sofa dengan fikiran melayang-layang tak mengerti.
            “ Begini Nak Restu, surat yang Nak Restu terima ini dari anak kami, anak kami satu-satunya, namanya Athya.”  Jelas sang ibu paruh baya menitikkan air mata.
            “ Ja.. jadi rangkaian bunga di depan ?” Ucapku terbata-bata, aku tak tahu, mengapa saat aku mendengar ucapan ibu paruh baya tersebut, mendadak rasa rindu akan gadis yang baru kutahu namanya barusan, muncul tanpa sebab.
            “ Iya Nak Restu, Athya mengidap penyakit leukimia stadium akhir, ia menghembuskan nafas terakhitnya tadi selepas subuh di rumah sakit..” Betapa terkejutnya aku saat mendengar apa yang diucapkan ayah satu anak tersebut, baru saja aku mendapat berita dari dr. Andre, dosenku, bahwa pasiennya yang mengidap penyakit leukimia meninggal dunia selepas subuh. Tak terasa mataku mulai berair, tak kuasa mendengarnya.
            “ Ya Tuhan, kenapa aku baru menyadari banyak keanehan pada gadis itu, kenapa aku baru tahu namanya setelah ia tak ada, kenapa pula, aku baru menyadari aku merindukannya, a a aku mencintainya..” Jeritku pelan. Perlahan tangan kokoh dan tangan lembut merengkuhku penuh kasih sayang.
            “ Bukan kamu saja yang merasa kehilangan, dia anak kami satu-satunya, harapan kecil kami !! dia anugrah terindah kami , Allah Maha Adil lagi Maha Mengetahui, mungkin Athya termasuk orang baik, sehingga Allah cepat memanggilnya .“ Aku tak bisa berkata apa-apa, terlalu berat untukku. Kenapa gadis yang baru kusadari kumencintainya, harus pergi begitu cepat, kenapa di harus pergi disaat aku sedang sibuk skripsi, aku benar-benar merasa sedih, dia tak dapat merayakan keberhasilanku esok nanti.
            “ Kami mohon padamu Nak ! wujudkan impian Athya, hanya kamu  yang bisa mewujudkannya. Athya benar-benar menaruh seluruh harapannya padamu, semasa hidupnya, ia tak pernah bisa mencintai seorang lelakipun kecuali kamu, kamu bisa ?“ aku mengangguk pelan, padahal, aku sendiri tak tahu harus berbuat apa, tapi demi gadis yang tak sempat ku miliki, aku yakin, aku pasti bisa.
                                                                        ***

            Kini di hadapanku terlihat gundukan tanah yang mulai mengering serta taburan bunga yang mulai menghilang bercampur tanah . Kurengkuh nisan bertuliskan Athya Kusuma P, berharap gadis itu dapat melihatnya, karena kini aku telah berhasil mewujudkan impiannya yang juga menjadi impianku, menjadi seorang dokter yang bercita-cita menyembuhkan para pengidap leukimia.